Jealousy Idol

jealousyidol copy

Cast : Ofc As Usual (Daesung + Mi Chan)

~Jealousy Idol~

 

Sekali

Dua kali

Tiga kali

Empat kali

….

Oke cukup, jika sekali lagi dia menganggu ku akan kuhadiahkan piring cantik padanya.

“Mi Chan-ah..”

Ya, selamat tuan Kang Daesung. Anda berhak mendapat hadiah.

GYUT

Appo !”

Aku menatapnya datar, tanpa ekspresi apapun. Karena aku sendiri tidak tahu harus memasang wajah seperti apa didepannya saat ini. Aku tidak kesal padanya, tapi aku juga tidak merasa senang. Entahlah.

“Mi Chan-ah, jangan marah.”

“Aku tidak marah Daesung oppa.

“Tapi, wajah mu marah. Itu menyeramkan.”

Ya tuhan… kenapa dengan dia. Kesabaranku mulai habis dibuatnya, kenapa tingkah Daesung oppa benar-benar seperti anak-anak.

Kututup sejenak Deception Point karya Dan Brown, lalu mengalihkan perhatian pada pria 27 tahun ini . Semoga ini adalah hal penting, karena aku harus menunda bacaan ku yang sedang seru-serunya. Mimik wajah Daesung oppa, menimbulkan banyak pertanyaan. Aku tidak yakin apa dia sedang sedih, bimbang, atau ingin marah. Kembali dia hanya memanggil nama ku, “Mi Chan-ah..”

“Hm, apa ada keluhan yang mau Daesung oppa utarakan?”

Dia mengangguk. Mirip seperti puppy.

“Kalau begitu katakan, Daesung oppa tahu kan sudah mengganggu jam tenang ku.”

“Ish, apa novel thriller itu lebih penting dari kekasihmu ini?” gerutu Daesung oppa.

Ku letakkan novel itu kembali ke rak nya, “Arraseo, jadi oppa mau bicara apa?”

Dia tampak sedang berpikir sebentar, lalu pergi ke dapur untuk mengambil satu pack bir dari lemari pendingin ku. Yah, akhir-akhir ini aku memang menstok bir dan soju di lemari pendingin ku. Mungkin karena sudah merasa dewasa dan cukup umur aku jadi menyukai dua jenis minuman itu. Satu hal yang aku herankan, Daesung oppa tumben sekali mengambil bir . Biasa juga dia marah padaku kalau aku minum bir walau hanya setengah kaleng. Saat aku juga ingin mengambil sekaleng bir dia langsung menjauhkannya dariku. Ah, apa maksudnya ini?

“Kita perlu bicara,” tegas Daesung oppa, meneguk bir dinginnya.

Aku menatap heran, “Ada apa sih? Ingin putus, ya?”

Diangkatnya kaleng bir itu, sambil menggoyangkan jari telunjuknya di hadapanku. Oke, mungkin dia mulai mabuk.

“Bukan. Lebih penting lagi.”

“Tentang apa? Jangan membuatku menebak atau oppa akan menyesal.” Ancamku, merebut kaleng bir itu dan meletakkannya sembarang.

Dia menggaruk lehernya, “Aku cemburu.”

 “Kenapa tidak ada respon?” Daesung oppa mendelik tajam padaku.

Tunggu, memang apa yang barusan ia katakan? Jangan tanyakan padanya dulu Mi Chan, kau tahu sendiri sifat childishnya bisa keluar kalau aku salah ucapan saja.

“Eum..yeah, aku tahu itu.”

“Tahu apa ?”

Pengalihan perhatian, disaat-saat seperti inilah sangat dibutuhkan. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa, pembicaraan apa yang akan membuat perhatian Daesung oppa teralih. Salah bicara, dia bisa balik marah padaku atau malah mendiamiku. Meskipun aku tahu cara untuk meredakan amarahnya, aku merasa tidak mood beraegyo hari ini. Daesung oppa tetap menatap ku, dia menunggu aku untuk menjawab sesuatu. Aku pikir mungkin dia juga tahu kalau aku berbohong, lalu kenapa dia juga diam saja. Biasanya Daesung oppa akan menyindir ku, lalu kami berakhir dengan acara debat singkat. Hubungan kami juga seperti pasangan pada umumnya. Siapa bilang punya kekasih seorang idol berarti hubungan mu akan menyenangkan, lihat kami semakin bertambah usia hubungan kami semakin lumayan sering pula kami bertengkar. Yah.. bukan bertengkar hebat karena hal seperti selingkuh atau hal serius lainnya. Masalah pertengkaran kami cuma hal-hal sepele dan ini salah satunya.

“Pokoknya aku tahu, tidak perlu dijelaskan secara detil kan?”

Daesung oppa mendekat, dia meraih bahuku. Eum, pikiranku jadi sedikit-

“Jangan berbohong lagi. Aku bisa baca kau, Shin Mi Chan.”

TTAK

Dia menjitak pelan dahi ku. Itu salah satu kegiatan favoritnya kalau aku tertangkap basah berbohong, mungkin sikap ku tergambar jelas sehingga dia cepat menangkap segala macam kebohongan ku. Ketika selesai dia akan menunjukkan senyum kemenangan diwajahnya. Ya, aku juga tidak mengerti kenapa dia merasa gembira sekali bisa menangkap kebohonganku seperti menang lotere saja.

“Tujuan Daesung oppa cuma ingin menjitak ku saja kan?”

“Itu diluar kendali tangan oppa.”

“Ugh, berhentilah main-main Daesung oppa, aku sedang tidak mood.” sergah ku, lalu bangkit kedapur.

Hari ini sungguh malas sekali, sindrom musim dingin membuatku ingin berkurung dirumah sambil menikmati novel thriller yang baru kupinjam dari perpustakaan kampus. Tapi ada penganggu merusak tatanan rencana kegiatan musim dingin ku. Jahat? Ya, ya.. aku memang pacar paling jahat atau bisa kusebut sebagai fangirl paling jahat. Haha, mungkinkah ternyata aku antifan nya?

“Sedang menertawakan apa? Seru sekali.”

Huk..uhuk..

Coklat panasku hampir tumpah.

Kuamankan segelas coklat panas berharga ini, “Daesung oppa !”

Mwo? Mwoya? Mworago?”

“Hiisssh! Jangan pura-pura, oppa sengaja mengagetkan ku. Dasar jahat.”

Dia berdiri diam memandangi ku, seperti tidak terjadi apa-apa. Daesung oppa hanya tersenyum dan menarik poniku kebelakang.

TTAK

Aww..

Lagi-lagi. Aku bisa gila karena ulah Daesung oppa ini, inikah hobi barunya?

Memberi ttakbam di dahi ku.

Ya! Daesung oppa! Dahiku bisa membesar kalau begini terus.” Harusnya dia mengerti kalau bekas merah akibat ttakbamnya ini susah hilang dan masih bertahan sampai besok.

Gwenchana, makin terlihat cantik menurutku.” Dia mendekatkan diri kami, sejenak aku merasa wajahku memanas seperti biasa jika Daesung oppa sudah begini. Tangannya memegang pinggiran oven besi besar dibelakang tubuhku, aku terjebak diantara oven besar dan dirinya. Sesekali mata kami saling bertemu, yah..lebih tepatnya dia terus memandangku sementara aku terlalu sibuk menatap arah lain. Aku gugup.

Bukan yang pertama kalinya aku dan dia seperti ini, tapi tetap saja aku masih malu. Ku harap wajahku tidak berubah jadi kepiting rebus, bisa rusak imej cool ku.

“Aku cemburu.”

Dua kata itu membuatku terpana selama beberapa menit dan selama itu pula Daesung oppa tidak melepas matanya dari ku. Dia semakin menatap ku tajam, seakan aku ini umpan siap makan. Inikah sesuatu yang membuat aku terkena ttakbamnya berkali-kali? Aku kira hal sangat penting, sampai dia rela memberi bekas merah di dahi pacarnya. Tapi dia juga menyukainya, jarang sekali Daesung oppa bisa menjahiliku. Dia hanya mau balas dendam.

Hangat. Aku suka keadaan kami seperti ini. Mungkin akan lebih kuperpanjang karena aku juga merindukannya.

Eomuk?”

“Huh?” Daesung oppa dan ekspresi bingungnya. Favoritku.

Aku mengangguk, “Ne, eomuk, soju, dan.. Ah! Sauna !”

Chagiya, kau aneh hari ini.”

“Itu akibat ulah oppa. Ayolah oppa, kita ke sauna saja.”

Dia menggeleng pelan, “Peri malas mulai menyerangku, Mi Chan-ah.”

Ya! Dilarang meniru ucapan ku.” Sekarang dia jadi doppelganger. What’s next?

“Uuh, lucu sekali pacarku ini. Bagaimana kalau kita dirumah saja, menikmati coklat panas buatanmu dan roti panggang.”

Benarkah ini dia? Kupikir Daesung oppa sudah lama ingin pergi kencan keluar, ternyata ajakan ku malah ditolak. “Lalu, kita akan melakukan apa dirumah? Mood ku membaca hilang karena oppa.

“Hm, dirumah ini hanya ada kau dan aku. Kita bisa membuat suasana rumah ini jadi panas, Mi Chan-ah. Oppa yakin kau sudah siap chagiya..”

Y..Ya! Hentikan sifat mesum oppa itu!” aku sedikit meronta, Daesung oppa semakin mengeratkan pegangannya hingga aku merasa terjepit.

Dia tersenyum simpul, “Chagiya, sebelum aku lupa bisakah kau menanggapi rasa cemburu ku barusan?”

“Daesung oppa cemburu karena aku suka dengan iKon? Dengan Donghyuk?”

“Begitulah.”

Entah kenapa aku tergelitik untuk mengalungkan kedua tangan ku dilehernya. “I love you. No.Matter.What.

Aku mengecup bibirnya, “Hanya ada Daesung oppa untuk ku. Hari ini kita habiskan film ghibli bagaimana?”

Kami berdua tertawa kecil, aku pun memeluknya. Hangat. Kesukaan ku di musim dingin.

 

 

 

 

 

===============================================

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s